Stasi Santo Fransiskus Asisi Sejahtera bermula pada 19 Juni 1981, ketika sebidang tanah seluas 7.830 m² dibeli untuk keperluan Gereja. Pada tahun 1988, sebuah gereja sederhana dari kayu dan papan dibangun untuk melayani sekitar 35 Kepala Keluarga umat Katolik di wilayah tersebut. Sejak itulah Stasi ini mulai berkembang sebagai bagian dari Paroki Santo Yosef Duri. Tanah gereja kemudian memperoleh legalitas melalui Sertifikat Hak Milik Nomor 97 pada tanggal 4 Januari 1991 atas nama Keuskupan Padang.
Pertumbuhan umat berlangsung pesat. Pada periode 1991–1993, jumlah umat meningkat menjadi sekitar 60 KK, disusul pembentukan pengurus stasi periode 1994–1996 dan pelaksanaan ibadat mingguan secara rutin. Menjelang akhir 1996, jumlah umat sudah mencapai 133 KK. Melihat perkembangan ini, pada tahun 1997 dimulai pembangunan gereja permanen yang lebih representatif. Gereja berukuran 38 m x 26 m dengan tinggi 9,30 meter mulai dibangun pada 1998 dan selesai pada 1999. Gereja ini kemudian diresmikan oleh Mgr. Martinus D. Situmorang, OFM.Cap pada 13 Juni 1999. Sejak itu, perayaan pesta pelindung Santo Fransiskus Asisi rutin dilaksanakan setiap bulan Oktober melalui kegiatan rohani, sosial, dan olahraga.
Kini, Stasi Santo Fransiskus Asisi Sejahtera berkembang menjadi komunitas yang hidup dan dinamis, dengan sekitar 260 KK yang terbagi menjadi 12 kring atau lingkungan. Pertumbuhan ini menegaskan perlunya pengembangan lebih lanjut menuju Paroki Mandiri. Pada 12 Maret 2024, Pastor Paroki Santo Yosef Duri menerbitkan SK Pemetaan Wilayah Sejahtera sebagai langkah awal pembentukan paroki baru. Hasil pemetaan tersebut disampaikan kepada Kevikepan Riau dan Keuskupan Padang pada 17 Mei 2024 sebagai bagian dari proses formal menuju kemandirian pastoral.
Sebagai langkah strategis untuk mendukung pelayanan yang semakin luas, pada tahun 2025 direncanakan pembangunan Pastoran Permanen berukuran 24 m x 21 m. Pastoran ini akan menjadi pusat pelayanan pastoral: tempat tinggal imam yang melayani wilayah Sejahtera, ruang kerja pastoral, ruang pertemuan, dan ruang penerimaan umat. Kehadiran pastoran baru ini sangat penting untuk mewujudkan pelayanan yang lebih dekat, terstruktur, dan berdaya guna bagi seluruh umat.
Wilayah pelayanan Paroki Sejahtera mencakup sembilan stasi yang akan dibina dan dilayani secara berkelanjutan, yaitu:
St Yohanes A Deo Kulim
St Vincentius A Paulo Tegar
St Maria dan Marta Pematang Bow
St Benediktus Jurong Bonai
St Yustinus Jurong Seberang
Kristus Raja Manggala Junction
St Agustinus Poros
St Fransiskus Xaverius Seremban Jaya
St Petrus dan Paulus Sukajadi
Dengan dukungan umat, pengurus stasi, Pastor Paroki Santo Yosef Duri, serta koordinasi erat dengan Kevikepan Riau dan Keuskupan Padang, pembangunan pastoran ini diharapkan dapat diselesaikan dalam tahun berjalan. Kehadiran pastoran permanen ini akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan menuju Paroki Sejahtera yang mandiri, menjadi pusat spiritual yang lebih inklusif, kuat, dan efektif dalam melayani seluruh umat di wilayah pengembangan.